RSS

BAB II TINJAUAN DATA part 2

03 Apr

2. INTERIOR TOKO / RETAIL

2.1. Pengertian Interior

Interior sebuah ruangan dibatasi oleh plafon, diding, dan lantai yang memiliki fungsi dan kegunaan ruangnya masing-masing. Interior membahas segala hal berkaitan dengan kreatifitas dan teknis yang diaplikasikan kedalam struktur bangunan.

Proses perancangan interior mengikuti suatu metode yang sistematis dan terkoordinasi, termasuk penelitian, analisis, dan integrasi pengetahuan ke dalam proses kreatif.

Menyusun Konsep Desain

Konsep desain adalah jawaban substansial literal dan skematik terhadap suatu masalah desain, sebagai dasar pengembangan konsep secara menyeluruh.

Konsep desin terdiri dari lima jenis, yaitu:

1. Pendekatan Analogi

Konsep ini menarik sebuah kaitan atau hubungan literal antara dua obyek. Konsep Analogi menggunakan masa lalu sebagai dasar untuk mengembangkan desain bangunan dengan fungsi tertentu yang sesuai dengan masa kini.

2. Pendekatan Metafor

Metafora mencari hubungan dua obyek tetapi lebih abstrak daripada harafiah (melalui simbol). Pendekatan simbolik semacam ini cukup efektif untuk membangun relasi antara produk yang dijual dengan karakter ruang tertentu secara simbolik.

3. Pendekatan Esensial

Suatu masalah desain dengan konsep ini didekati dengan menganalisa masalahnya untuk menemukan hirarki dan issue yang terkandung dari suatu proyek.

4. Pendekatan Responsif Langsung (programatik)

Pendekatan ini sebagai alternatif bila usaha penemuan esensi masalah gagal, maka program fasilitas dan aktivitas menjadi issue yang utama dalam menyusun konsepnya.

5. Pendekatan Ideal

Pendekatan ini kontradiktif dengan konsep-konsep sebelumnya, dimana desainer mencoba menemukan masalah substansial dari proyek, pada konsep ini desainer sudah memiliki konsep yang ideal sebelumnya untuk sebuah proyek.

2.2. Prinsip-prinsip Desain Interior

Konsep desain interior meliputi aspek-aspek estetik yang perlu diterjemahkan melalui elemen-elemen berikut:

  • Organisasi Ruang
  • Denah
  • Ruang
  • Display
  • Warna
  • Material
  • Pencahayaan

Atas dasar prinsip-prinsip dari aspek desain tersebut di atas, konsep terkait dapat dikembangkan dengan melihat hubungan yang erat antara komposisi estetik tertentu dengan salah satu bentuk pendekatan di atas.

2.3. Toko / Retail

2.3.1. Pengertian Toko (Retail Shop)

1. Definisi Toko

–             Sebuah tempat dimana barang-barang diakumulasikan dan disimpan untuk keperluan yang akan datang. ( Harris,1979 : hal. 890)

–             Sebuah bisnis retail yang menjual barang-barang konsumsi dan juga jasa. Pengunjung datang untuk melihat-lihat dan biasanya membeli barang. (Microsoft Encarta)

–             Toko adalah alat penjualan yang aktif, alat promosi untuk menarik orang berbelanja. Suasana toko menambahkan image produk yang bernilai dan patut dihargai kepada pembeli. ( Vilma, 1986)

–             Sebuah tempat dimana barang-barang disimpan untuk dijual. Sebuah tempat dimana barang-barang diakumulasikan dan disimpan untuk keperluan yang akan datang. (Cyril M.,1979: hal. 890)

2. Definisi Retail

–             Retail dalam bahasa Inggris ‘retail’ yang berarti eceran. ( M, John. 1979: hal. 483)

–             Kata tersebut pertama kali dicatat sebagai kata benda dengan arti ‘penjualan dengan jumlah kecil’ pada tahun 133 (Prancis).

–             Penjualan barang langsung kepada konsumen, dari toko biasa dan dalam jumlah kecil, tanpa diskon, biasanya dengan harga yang lebih tinggi. (Microsoft Encarta)

–             Bidang retail terdiri dari penjualan atas barang-barang atau bang dagangan, ari lokasi yang tetap seperti toko department atau kios, pada jumlah kecil atau pebisnis.

3. Fungsi toko

Fungsi penting ruang niaga saat ini adalah untuk memamerkan dan menjual barang dagangan namun yang paling penting adalah hubungan antara pengunjung dan display barang dagangan serta antara pengunjung, display, dan  personil penjualan. (Panero, 2003: hal. 196)

2.3.2. Sejarah Perkembangan Toko Retail

Perdagangan merupakan pendorong utaman timbulnya toko. Perdagangan itu sendiri timbul karena beberapa hal, diantaranya yaitu:

–          Kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan beraneka ragam jenisnya.

–          Adanya perbedaan kecakapan antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

–          Letak geografis dimana manusia itu hidup.

–          Latar belakang kemajuan pendidikan, kebudayaan, perhubungan dan bidang teknik dan pertumbuhan penduduk. (Atep Adya Barata, 1995: hal. 19)

Perdagangan dilakukan pertama kali dengan melakukan pertukaran barang dengan barang (barter). Kemudian berkembang menjadi pertukaran dengan kulit binatang, emas, perak yang dikenal dengan sebutan mata uang logam. (Barata, 1995: hal.25-26)

Toko berasal dari kata pusat perbelanjaan. Pertumbuhan populasi dan kemajuan jaman membuat orang-orang menggabungkan toko-toko di dalam satu gedung atau area. Pada abad ke-19 di Prancis, arcade diciptakan, yaitu sebuah jalan yang dipenuhi beberapa toko yang berbeda,

dengan ditutupi atap. Dari sana dikembangkan  sebuah toko besar dengan banyak konter yang masing-masing menjual jenis barang yang berbeda, yang disebut Department Store.

Kelebihan dari Department store adalah harga yang tetap, sehingga tidak memerlukan tawar-menawar dan menjadi lebih nyaman. Pada kota-kota besar, toko besar ini berupa bangunan berlantai yang memiliki escalator. (Chung, 2001)

Pada tahun 1920-an, shopping-mall pertama dibangun dengan menyertakan elemen pada arcade maupun department store. Sebuah mall terdiri dari beberapa department store yang dihubungkan dengan arcade. Seluruh pertokoan menyewa tempat dari pemilik mall. Selain mall tertutup, ada pula ‘strip mall’. Mall ini sering terhubung pada supermarket atau toko-toko besar juga area lalu lintas yang padat. Perkembangan terkini adalah sebuah toko yang sangat besar disebut superstore, dengan berdiri sebagai outlet mandiri atau umumnya sebagai bagian dari strip mall.

2.3.3. Jenis dan Kategori Toko

1. Jenis toko berdasarkan lokasi atau tata letak:

1) Shopping street

Shopping street adalah toko yang berdiri sendiri dan berderet di sepanjang jalan, baik jalan dalam bangunan besar maupun kecil. Biasanya untuk menjual barang kebutuhan sehair-hari. Letak berdekatan dengan perumahan sehingga memudahkan pelayanan. Bangunannya sendiri bebas untuk direnovasi.

2) Shopping center

Shopping center adalah toko yang berada dalam satu gedung dan memiliki area parker sendiri.

3) Shopping arcade

Shopping arcade terdapat di hotel dan sifatnya lebih eksklusif, misalnya toko perhiasan, butik, dll.

2.Jenis toko berdasarkan kuantitas barang yang dijual :

1)      Penjualan grosiran (whole sale)

Penjualan barang dalam jumlah besar, dilakukan denagn cara memesan dan biasanya diantar sampai tujuan.

2)  Penjualan retail

Penjualan barang dalam jumlah kecil atau satuan, konsumen langsung  membeli barang di tempat dan biasanya tidak disertai dengan pengiriman.

3. Jenis toko berdsarkan keragaman barang yang diperjual-belikan:

1) Specialty shop

Toko yang hanya menjual barang yang sejenis saja, misal toko sepatu, toko kaset, toko pakaian, toko buku dan lainnya.

2) Variety shop

Toko yang menjual berbagai jenis barang dagangan, misal supermarket, department store.


 

4. Jenis toko berdasarkan tingkat kebutuhan jenis barang yang diperjual-belikan:

1)      Convenience Store

Toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari.

2)      Demand Store

Toko yang menjual barang-barang tertentu yang dibutuhkan konsumen.

3)      Implus Store

Toko yang menjual barang-barang mewah seperti perhiasan.

5. Jenis Toko Berdasarkan Cara Pelayanan

1)      Personal Service

Pelayanan khusus yang dilakukan perorangan kepada pelanggan yang cukup istimewa, sehingga pelanggan dapat lebih mudah ,mendapatkan barang yang diinginkan. Biasanya harga barang tersebut mahal dan eksklusif. Misalnya : toko perhiasan, showroom mobil.

2)      Self Service

Pelayanan yang dilakukan sendiri oleh konsumen. Contohnya: supermarket, toko buku.

3)      Assisted Service

Pelayanan yang dilakukan oleh pegawai-pegawai kepada pembeli. Pembeli yang didampingi dan dibantu dalam mencari barang yang diinginkan. Contohnya: toko sepatu.

4)      Mechanic

Penjualan barang dibantu dengan mesin otomatis atau alat mekanik dengan cara menerima barang setelah memasukkan uang koin ke dalam mesin. Contohnya: mesin penjual minuman kaleng.

5)      Order System

Konsumen dapat membeli barang yang diinginkan melalui telepon dan barang tersebut diantar ke tujuan dengan tambahan ongkos kirim. Biasanya system ini diterapkan pada restoran.

6)      Mail Order

Pelayanan dilakukan melalui surat kiriman. Pelanggan ditawarkan melalui pos dan barang akan dikirim melalui pos juga.

1.4. Teori Perencanaan Ruang Toko Retail

1. Tampilan Depan Toko

Storefront merupakan bagian depan toko yang mencakup:

1) Main Entrance

Entrance merupakan bagian pintu masuk yang memiliki peranan penting karena berada di bagian terdepan dari sebuah toko, member informasi pertama bagi pengunjung. Maka dari itu harus didesain agar berkesan menyambut sehingga pengunjung berminat untuk masuk. Pertimbangan menciptakan main entrance:

1. Desain dari entrance

Bagaimana dengan desainnya, kesan apa yang ingin disampaikan kepada pengunjung, dsb sehingga dapat menarik perhatian konsumen.

2. Factor Ergonomic

Ukuran dari main entrance juga mempertimbangkan factor ergonomic dimana ukuran pintu sebaiknya tidak terlalu sempit sehingga tidak menyebabkan pengunjung berdesak-desakan untuk masuk ke dalam toko.

2) Shop Window

Disebut juga window display yang berfungsi sebagai tempat peragaan barang-barang yang ditawarkan. Window display ditata semearik mungkin agar pengunjung berminat dan dapat dilihat dari jauh serta jelas. Window display mengalami perubahan tergantung pada tema barang yang ditawarkan atau barang-barang keluaran terbaru. Untuk itu, ada 3 jenis front of the shop atau window display , yaitu:

–          Closed, yaitu jenis front of the shop yang sifatnya tertutup, dalam arti orang tidak bisa melihat isi toko dari luar. Jenis ini cocok untuk toko perhiasan.

–          Semi transparent adalah jenis front of  the shop yang bersifat terbuka. Orang bisa melihat isi toko dari luar, tetapi tidak secara keseluruhan. Pandangan kita dibatasi oleh penataan window display.

–          Transparant adalah jenis front of the shop yang bersifat terbuka, jadi orang bisa melihat isi toko dari luar. Pandangan kita tidak dihalangi sama sekali.

Ada 3 jenis pintu pada storefront of the shop, yaitu:

–          Door/pintu

Pintu masuk dengan arah bukaan ke dalam toko. Posisi pintu terletak sejajar dengan kaca etalase.

–          Portal

Pintu masuk diberi bingkai atau portal yang memberikan kesan kokoh dan kuat. Posisi pintu terletak sejajar dengan kaca etalase.

–          Soffit

Pintu masuk dengan arah bukaan ke arah luar. Posisi pintu terletak lebih dalam daripada letak posisi kaca etalase.

3) Display

Untuk meletakkan merchandise di dalam toko, kita membutuhkan display agar merchandise itu tersusun rapi dan mudah dijangkau oleh konsumen. Ada 4 macam display yang dikenal yaitu:

–                Open Display

Yaitu display yang bersifat terbuka, misalnya untuk bag shop. Tas-tas yang beraneka ragam ukurannya disusun tanpa menggunakan rak khusus, tetapi tetap menciptakan suatu penataan yang baik.

–                Island Display

Merupakan display yang letaknya di tengah-tengah toko. Barang-barang yang ingin ditampilkan diletakkan ditengah-tengah, agar konsumen mudah untuk melihat-lihat.

–                Wall Display

Merupakan display yang menempel pada dinding toko, jadi barang-barang yang ingin ditampilkan diletakkan pada sisi-sisi dinding. Misalnya pada shoes shop.

–                Accent Display

Yaitu display yang diperuntukkan untuk barang-barang baru, yang merupakan sesuatu yang ingin ditonjolkan untuk menarik perhatian konsumen.

–                Close display

Jenis display ini tertutup, tidak terlihat jelas sehingga tidak dapat disentuh ataupun diganggu oleh pengunjung. Biasanya untuk barang yang berukuran kecil dan mahal. Misal: vitrine, show case, built-in.

–                Special display

Display yang dirancang khusus untuk produk yang tidak dapat disentuh, dipegang tanpa pengawasan dan pelayanan dari pegawai toko. Sering disebut sebagai ‘point of purchase’ atau pusat visual merchandising.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada display:

–    Tekstur

–    Tata Cahaya (lighting)

Penggunaan jenis lampu seperti highlight, spotlight, dan sebagainya didasarkan pada kesan apa yang ingin kita tampilkan karena tiap-tiap lampu mempunyai karakter cahaya yang berbeda-beda.

–    Warna atau Aksen

Hal pertama yang kita lihat dalam cahaya adalah warna. Oleh karena itu untuk menampilkan sesuatu kita menggunakan warna. Untuk toko mainan atau hobby, kita hrus jeli dalam menggunakan warna yang atraktif untuk menarik minat perhatian pengunjung tertutama anak-anak.

–    Teknik display

Terbagi menjadi presentasi produk, pendukund produk, dan integrasi produk. Produk-produk tersebut dapat ditunjukkan secara tunggal atau kelompok dimana produk lain saling berhubungan.

4)   Tipe dan Kategori Barang

1. Implus good (tertier)

Adalah barang yang merupakan kategori barang mewah. Tipe ini biasanya diletakkan di bagian depan toko untuk menarik perhatian.

2. Convenience goods (sekunder)

Adalah barang diantara implus good dan demands good, barang tipe convenience good berfungsi sebagai tambahan. Biasanya diletakkan di bagian tengah toko karena barang tipe ini tidak harus idipenuhi.

3. Demands Good

Merupakan barang kebutuhan pokok manusia, maka barang tersebut biasanya diletakkan di bagian belakang/ bagian paling jauh. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menarik perhatian pengunjung.

5) Furniture

Jenis-jenis furniture pada toko, yaitu:

a. Vitrine

Lemari khusus sebagai tempat benda-benda yang membutuhkan penataan khusus dan biasanya juga sebagai pajangan. Barang-barang pada vitrine tidak bisa dijamah langsung oleh pengunjung. Contoh: toko emas, toko jam, optik, dsb.

b. Counter

Furniture yang digunakan untuk sarana pelayanan antara customer dan pemilik toko. Misalnya: meja kasir.

c. Cupboard

Furniture pada toko yang berbentuk lemari, ada yang tertutup dengan lapisan kaca, ada juga yang tidak ditutup.

6) Customer Behaviour

Merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dari fungsi toko itu sendiri sebagai tempat individu melakukan aktivitas yaitu perilaku berbelanja. Hal-hal yang perlu diketahui dariperlikau konsumen mencakup: segi usia, tingkat ekonomi, emosi dan aktivitasnya ketika masuk ke dalam toko. Disini desainer diminta untuk menciptakan suasana yang mendukung kebiasaan konsumen sehingga mereka merasa senang, tertarik, betah, dan membeli barang di toko tersebut.

2. Dasar-dasar Layout Toko (Store Layout)

Store layout direncanakan sesuai dengan program ruang yang biasanya disusun berdasarkan observasi mengenai kebutuhan ruang. Tiap toko memiliki luas lantai yang berbeda, namun yang terpenting adalah bagaimana melakukan pembagian antara selling, merchandise, personnel dan customer area, yang memiliki fungsi yang berbeda:

Selling space

adalah area untuk display merchandise, adanya interaksi antara penjual dan customer demonstrasi dan lain sebagainya. Untuk retail dengan sistem self service, misalnya, membutuhkan lebih banyak tempat untuk display barang-barang.

Merchandise space

adalah area tempat penyimpanan stok barang. Toko sepatutradisional, sebagai contoh membutuhkan banyak ruang untuk penyimpanan.

Personnel space

merupakan area khusus bagi karyawan, biasanya dipergunakan untuk berganti pakaian, makan dan rest room. Biasanya pemilik bisnis retail cenderung memberikan alokasi yang ketat karena ruang yang ada sangat berharga.

Customer space

merupakan area bagi pengunjung, area ini dapat meningkatkan mood berbelanja. Termasuk di dalamnya adalah tempat duduk, lounge, dressing room, cafe, dan aisles.

1) Lay out toko

Lay-out toko biasanya diatur berdasarkan empat klasifikasi:

–       Pertama, penataan barang-barang dapat diatur secara fungsional atau functional product grouping. Sebagai contoh toko perlengkapan baju pria dapat dibagi menjadi kaos, dasi, penjepit dasi, pembersih sepatu, jaket dan celana panjang.

–       Kedua, penataan barang-barang berdasarkan motivasi pembelian produk atau purchase motivation product groupings. Sebagai contoh, pada department store, lantai terbawah biasanya dialokasikan untuk produk-produk yang membutuhkan keputusan pembelian yang cepat. Untuk lantai yang lebih tinggi, dapat didisplay barang-barang yang proses keputusan pembeliannya memerlukan waktu lebih lama.

–       Ketiga, market segment groupings, adalah pengaturan group berdasarkan segmentasi yang dituju. Misalnya baju anak terpisah dengan baju wanita pada pengaturan layout department store.

–       Keempat, storability product groupings, yaitu penyimpanan berdasarkan kebutuhan penyimpanan. Misalnya pada lay out supermarket, terdapat pemisahan area untuk bahan makanan dingin yang membutuhkan lemaripendingin dan barang- barang yang dapat disimpan pada suhu normal.

Yang terpenting juga pada lay out toko adalah sirkulasi yang dipergunakan. Terdapat dua jenis sirkulasi yang biasanya digunakan dalam mengatur lay out toko yaitu sirkulasi dengan pola geometris (straight pattern) dan sirkulasi dengan pathwayplan, diagonal plan, curved plan, varied plan dan geometric plan.

1. Curved plan

Biasanya digunakan pada butik atau salon, dan tipe toko lain yang menjual pajangan eksklusif. Curved plan menciptakan susana yang special dan mengundang bagi konsumen.

2. Varied plan

Diperuntukkan bagi produk yang membutuhkan stok barang yang diletakkan berdampingan. Cirri varied plan ini adalah pengarahan ruang yang berfokus pada area khusus di bagian belakang.

3. Straight plan

Bersifat ekonomis dan dapat diadaptasi pada berbagai tipe toko. Pola ini mendorong konsumen agar menuju ke bagian belakang toko. Untuk melambatkan kecepatan melangkah dapat dibuat kenaikan lantai.

4. Pathway plan

Dapat diaplikasikan pada jenis toko manapun, khususnya sesuia untuk toko dengan luas lebih dari 5000 kaki pada suatu lantai. Perancangan ini mendorong pengunjung dari depan ke belakang tanpa interupsi. Bentuk ini dapat diterapkan pada toko pakaian dimana pengunjung tidak akan merasa kesulitan untuk menemukan jalam untuk kembali melalui barang dagangan yang membingungkan.

5. Diagonal plan

Paling baik untuk self service store. Kasir dapat terletak di bagian tengah, dengan pandangan yang dapat ditujukan ke seluruh area toko. Layout ini menarik dan bersifat dinamis karena tidak berdasarkan garis lurus, mengakibatkan banyak gerak dan sirkulasi.

6. Geometric plan

Pola layout ini menciptakan bentuk  dan susunan yang diperoleh dari tempat pajangan, rak-rak atau gondola. Geometric plan juga dapat mengakomodasi system storage yang berdampingan secara rapi. Ceiling dan lantai dapat direndahkan atau ditinggikan untuk menciptakan zona dan departemen.

2) Organisasi Antar Ruang

Bentuk organisasi ruang dapat dibedakan antara lain:

1. Organisasi ruang terpusat

Sebuah rung besar dan dominan sebagai ruang-ruang sekitar yang mengelilingi. Ruang sekitar mempunyai bentuk, ukuran dan fungsi sama satu dengan yang lain.

2. Organisasi ruang linier

Merupakan deretan ruang-ruang. Masing-masing dihubungkan denga ruang lain yang bersebelahan dan bersifat memanjang.

3. Organisasi ruang secara radial

Kombinasi dari organisasi yang terpusat dan linier. Organisasi radial mengarah ke luar. Lengan radial berbeda satu sama lain, tergantung pada kebutuhan dan fungsi ruang.

4.  Organisasi ruang mengelompok
Merupakan pengulangan bentuk dan fungsi yang sama, tetapi terdiri dari komposisi ruang yang berbeda ukuran, bentuk dan fungsi.

5. Organisasi ruang grid

Terdiri dari beberapa ruang yang posisi ruangnya tersusun dengan pola grid (3 dimensi). Organisasi ruang membentuk hubungan antar ruang dari seluruh fungsi posisi dan sirkulasi.

3) Perencanaan Sistem Sirkulasi

1. Jenis sirkulasi

–      Grid (space efficiency)

Merupakan pola sirkulasi yang tidak membutuhkan banyak jarak untuk bergerka, sehingga jarak yang dibutuhkan lebih efisien.

–       Free Flow

Merupakan alur sirkulasi yang membutuhkan banyak jarak untuk bergerak, biasanya diterapkan untuk ruangan yang bersifat luxury dan besar seperti ruang pameran.

2. Jenis Ruang Sirkulasi

–       Ruang sirkulasi Vertikal

Tak ada satupun ruang public yang dapat berfungsi tanpa prasarana sirkulasi vertical yang memadai. Jika prasarana ini tidak dirancang dengan pertimbangan aspek ukuran tubuh manusia, nilai efisiensi dari penggunaan prasarana ini akan hilang. Dalam perancangan tangga, baik lebar tangga ataupun hubungan antar anak tangga harus mencerminkan dimensi manusia.

–       Ruang Sirkulasi Horizontal

Ruang sirkulasi horizontal mencakup antara lain koridor umum di dalam bangunan yang lebarnya berkisar 152,4 sampai dengan 365,8 cm, lobi, selasar untuk pejalan kaki, plaza dalam pusat perbelanjaan tertutup yang luas dalam terminal transportasi. (Panero,1979: hal. 268.274)

3. Alur  Sirkulasi

System sirkulasi pada interior toko harus mencukupi dan ditentukan dengan baik dengan pertimbangan bentuk dan kapasitas ruang. Desain harus terarah langsung dan jelas agar pengunjung mudah menuju ruang-ruang disekitarnya.

Berikut adalah oengaturan arus sirkulasi pada toko yang didasarkan pada penempatan pintu:


Meneruskan                           –    Membelokkan

–          Memperlambat                      –    Jelas / Langsung


Tidak jelas (terhalang)          –    Pandangan terarah


Terbagi 2                                 –    Tidak tentu


Baik, pandangan jelas           –     Pandangan kurang

 

 

4) Elemen Interior

Elemen interior yang penting adalah lantai, dinding dan plafon. Bahan atau material yang digunakan sebagai elemen interior pada sebuah toko yaitu:

1. Lantai

Lantai memberikan karakter dan dapat memperjelas sifat ruang. Pada sebuah toko, lantai menggunakan bahan berikut:

–          Soft surface

Permukaan lantai yang lembut dan lunak seperti vinyl tile, carpet, rubber tile.

–          Hard surface

Permukaan lantai yang keras seperti keramik, marmer, dan granit.

2. Dinding

Dinding sebagai penyekat ruang. Dalam perencanaan interior ruang harus diperhatikan unsur dinding yang akan didesain agar mencapai suatu kesatuan yang serasi dengan elemen interior lainnya. Bahan-bahan penutup  dinding yang digunakan pada sebuah toko yaitu cat tembok, wallpaper, hardboard, kaca atau cermin, dll.

3. Plafon

Plafon berfungsi sebagai pembentuk ruang dan juga berfungsi untuk melindungi kegiatan manusia, sebagai bidang penutup atas sebuah ruang dalam dari bidang alas dan dinding. Bahan yang digunakan untuk sebuah toko yaitu: acoustic, gypsum, alumunium ceiling.

4. Signage

Signage dapat menarik perhatian konsumen untuk berhenti dan mengamati display yang dipajang. Semua desain grafis yang digambarkan mempunyai peranan penting dalam membangun image dan kepribadian toko, bahkan ikut mempengaruhi posisi di pasar.

Semakin tinggi kualitas tokonya, semakin sedikit sign yang digunakan. Jika bagian interiornya dirancang dengan baik dan terintergrasi dengan presentasi barangnya, maka karakter toko akan terlihat secara spontan dan dramatis. Nama dan logo  adalah tanda eksterior toko yang dominan, symbol yang menyambut pelanggan. Penggunaan logo yang inovatif dan imajinatif akan menjadi asset tambahan.

Fungsi Signage:

–          Menekankan identitas toko

–          Mengarahkan serta membantu pelanggan melakukan pembelian

Syarat penempatan signage:

–          Papan nama harus cukup tinggi untuk dilihat dari jauh.

–          Tidak tertutup oleh pengunjung lain yang berdiri di depan toko.

–          Tidak menutupi pemandangan di dalam toko.

Jenis-jenis signage:

–          Individual letter sign

Umumnya menggunakan material dari plastic, kayu atau logam. Tulisan dan backgroundnya terpisah

–          Panel signs

Material background jelas, tembus cahaya atau tidak tembus cahaya. Tulisannya dapat dicat, berupa cetakan yang digambarkan pada permukaan background atau dapat berupa potongan tulisan setebal ¼ inchi yang terbuat dari material kayu, plastic atau logam yang melekat pada permukaan background. Tulisan background dapat menjadi satu kesatuan.

–          Institutional signs

Menggambarkan filosofi dan tujuan yang dibuat perusahaan yang menyangkut moral dan visi, sosial dan tanggung jawab terhadap komunitas serta integritas.

–          Department signs

Identifikasi segala jenis dan lokasi bagian yang selalu menjadi perhatian manajemen toko. Kebanyakan toko beranggapan dengan memiliki pengelompokan display yang baik sudah menjawab segala kebutuhan tersebut. Namun strategi menyeluruh yang dibutuhkan untuk mendukung pendapat ini sehingga membantu pelanggan untuk menemukan bagian atau barang yang dicari.

–          Classification and brand name signs

Dalam sebuah toko yang besar terdapat beberapa divisi dimana masing-masing membutuhkan identifikasi yang jelas. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan dengan presentasi maupun display. Oleh karena itu, penggunaan brand name signs ke dalam elemen desain interior sanaat diperlukan. Pengaturan dan skala elemen tembok dapat meningkatkan atau membatasi penggunaan signage.

–          Point of purchace signs

Jenis signage ini akan segera terlihat dan dibaca oleh pelanggan karena diletakkan di titik pembelian. Di dalamnya termasuk ticketing, sizing, pricing dan informasi promosi yang diletakkan pada fixture penjualan. Signage ini bersifat sementara dan tergantung dari event yang ada, seperti signage yang menginformasikan potongan harga pada saat event tertentu. Oleh karena itu, signage ini tidak termasuk signage yang direnanakan pada saat mendesain sebuah toko. Namun ketika signage ini dipasang, prinsip desainnya harus tetap mengacu pada konsep, karakter interior dan desain toko secara menyeluruh.

–          Building signs

Building signs haruslah mempunyai arti tersendiri yang mampu mencerminkan produk yang dijual dan harga yang ditawarkan.ada yang menggunakan lampu neon dan ada yang tidak.

–          Product information, promotion, price

Sign yang terdapat di dalam toko,yang didalamnya termasuk kategori signs, promosi, harga-harga dan acara-acara yang ditawarkan.

–          Directories

Sign yang berfungsi sebagai petunjuk arah di dalam sebuah toko dan dapat berupa peta.

Ukuran huruf signage

Dalam pemilihan ukuran huruf yang digunakan sebaiknya memperhatikan bahwa pengunjung akan memperhatikan sebuah sign toko dengan jelas dari tampak kejauhan.

Jenis-jenis signage

Sumber: The Retail Shop, Wiliam R.Green.

  1. Teknik Pencahayaan
  2. Aspek Teknik Bangunan

Berikut adalah bagian-bagian yang terdapat dalam sebuah retail:

  • Sign Board : Merupakan bentuk logo atau nama dari toko. Biasanya terletak di depan toko tepat di atas pintu masuk.
  • Main Entrance : Pintu masuk utama ke dalam toko.
  • Window Display : Pajangan produk yang disusun sedemikian rupa disamping pintu masuk dan dibatasi oleh kaca.
  • Meja display : Bentuk penyusunan produk jual diatas meja.
  • Wall display : Produk terletak pada rak yang menempel pada dinding. Bentuk wall display dapat bervariasi tergantung dari produk dan tema retail.
  • Hanging display : Produk yang disusun dengan cara digantung. Biasanya terletak di tengah ruangan.
  • Meja Kasir
  • Gudang
  • Fitting Room : Ruang kecil untuk mencoba produk. Biasanya hanya ada pada toko yang menjual pakaian.
  • Bangku : Umumnya terdapat dalam toko sepatu.

3. ELEMEN IDENTITAS PERUSAHAAN

Pendekatan dengan Identitas Perusahaan

Khusus untuk ruang komersial ada suatu kebutuhan atau masalah yang dihadapi oleh setiap perusahaan dimana identitas menjadi sangat penting untuk bersaing. Oleh karenanya, pendekatan terhadap upaya membangun identitas ini menjadi inti perhatian dalam konsep desain interior toko atau retail lainnya pada masa kini.

Perusahaan yang memiliki budaya kuat dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan identitas perusahaan tanpa hatrus direkayasa secara khusus. Pengembangan identitas bagi perusahaan semacam ini cenderung lebih mudah, karena pihak pendiri atau pemilik usahanya akan dengan mudah menyatakan filosofi sebagai modal mengembangkan konsep citra perusahaannya.

Identitas perusahaan sebagai representasi citra perusahaan dapat dilihat melalui setiap elemen yang diragakan oleh perusahaan kepada konsumen, mulai dari nama produk / toko, logo, iklan, katalog/brosur, produk/jasa yang dijual, dan tempat dimana produk dipasarkan. Oleh karenanya ruang/interior toko juga menjadi elemen identitas yang menentukan baik tidaknya citra perusahaan.

Pendekatan dengan identitas perusahaan dapat mencakup:

  • Identitas Grafis

Logotype simbol, merk produk, signages, poster iklan, brosur/katalog, kemasan produk, label harga, dan material promosi lainnya.

  • Identitas Produk

Karakter produk  dari setiap produk yang dijual termasuk kemasannya yang dirasakan oleh konsumen, adalah sebagai citra produk dan perusahaan yang menghasilkannya.

  • Identitas Ruang

Identitas dapat dirasakan melalui ukuran, dimensi, keragaman produk, pengalaman konsumen ketika mencari barang, aroma dalam ruang, lembut kasarnya elemen dalam ruang, dan lainnya.

Desain dapat berperan mengembangkan identitasnya dimana representasinya dapat menggunakan ruang atau obyek atau hasil produksi perusahaan. Identitas ini akan terlihat lebih jelas ketika penerapannya konsisten dalam berbagai media tersebut.

Citra dan Identitas Perusahaan

Corporate Culture – Corporate Personality – Corporate Phylosophy – Corporate Vision & Mission

Corporate Identity

Spatial identity

Graphic Identity

Product Identity

Consumen’s Mind

Corporate Image

Dari diagram di atas dapat dipelajari bahwa citra perusahaan ditentukan oleh banyak elemen identitas yang dirasakan atau dilihat oleh konsumen. Untuk menjaga agar citra perusahaan tetap baik dan positif sesuai yang diinginkan konsumen, diperlukan standar identitas yang dikemas dalam bentuk manual atau pedoman identitas perusahaan sehingga setiap desainer yang terlibat pengembangan elemen desain dapat menjamin tercapainya tujuan di atas.

Citra Perusahaan dalam Interior

Outlet atau retail adalah tempat dimana suatu perusahaan akan memasarkan dan menjual barang atau jasanya. Oleh karenanya disinilah desainer interior dibutuhkan oleh prusahaan untuk mengembangkan citranya, melalui citra interiornya. Citra interior dibangun agar sikap konsumen yang datang dan masuk ke dalam ruang retail adalah positif. Hal ini penting agar konsumen dapat menjalani proses sampai memutuskan untuk membeli produk.

Citra interior ditentukan oleh sedikitnya dua faktor, yaitu faktor fungsional / operasional dan suasana / atmosfir ruang. Faktor fungsional mencakup jaminan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi pengunjung sejak memasuki ruang retail hingga keluar. Sedangkan suasana ruang dibentuk oleh dimensi ruang, dimensi produk serta grafik. Dimensi ruang mencakup plafon, dinding, dan lantai, sedangkan dimensi produk mencakup obyek tiga dimensi yang ada dalam ruang termasuk mebel, produk / merchandise, serta elemen estetik. Dan dimensi grafik berupa elemen-elemen dua dimensi yang hadir di dalam ruang seperti signages, poster, foto, lukisan, mural, dan lainnya.

 

D.K.Ching, Francis. 1996. Ilustrasi Desain Interior. Jakarta : Erlangga.

Drs. Agus Tiono, M.hum. 2002. Materi Perkuliahan Desain Interior III. Jakarta: FSRD.

Green, William R. 1986. The Retail Shop. USA: Van Nostrand reinhold Company. Inc.

Ketchum, Morris. 1957. Shop & Stores. New York: Reinhold Publishing Corp.

Kliment, Stephen. A. 2004. Detail And Mixed-use Facilities. Canada : John Willey and Sons, Inc.

Mun, David. 1981. Shop Manual of Planning and Design. London: The Architectural Press.

 
6 Comments

Posted by on April 3, 2011 in SEMINAR FSRD UNTAR

 

6 responses to “BAB II TINJAUAN DATA part 2

  1. vhianzhee

    June 6, 2011 at 11:31 pm

    trims y info retail shop ny,,bs minta cantumkan daftar pustaka ny tak?

    salam bloger
    – vhianzhee-

     
    • vionajessica

      June 7, 2011 at 1:46 pm

      kebanyakan sumber yang saya ambil dr buku sih.. ohya, juga ada beberapa pendapat / kata2 yang diolah sendiri🙂

       
  2. lilis

    February 28, 2014 at 5:30 pm

    maaf sis, mw nny nih, kamu ada ebook the retail shop nya william green ya?

     
    • vionajessica

      March 5, 2014 at 6:31 am

      Hi lilis, dulu sempat ada kayanya, aku jg udah agak2 lupa. Filenya udah ilang gara2 laptop rusak sih..

       
  3. widi

    December 9, 2014 at 1:03 am

    permisi tanya kak, ini judul penelitiannya apa ya? thank you..

     
    • vionajessica

      December 10, 2014 at 3:42 pm

      Hi widi, saya lupa judul pastinya soalnya udah lama banget.. Tapi ini saya membahas pengaruh logo suatu brand terhadap interior tokonya

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: